Tempat berceloteh tentang segala macam fenomena kekinian.
Oleh: Eka Nawa Dwi Sapta Ditulis: 25 Januari 2020 12:55 Diperbarui: 25 Januari 2020 12:55 2986
“Seringkali kejadian yang tidak intens, jarang terjadi, bahkan hanya sekali bisa membuat orang menyebut sesama dengan istilah toxic. Misalnya seorang sahabat sekantor yang curhat dan mengeluh atas masalah yang menimpa keluarganya. Kita serta merta melabeli orang itu "pengeluh" dan "negatif".”
Toxic atau toksik berarti beracun. Dalam ilmu kimia, kata toxic mengarah pada sifat suatu senyawa atau zat yang menimbulkan efek beracun (fatal).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) toksik berarti racun, beracun, atau berkenaan dengan racun. Material Safety Data Sheet (MSDS) menggambarkan senyawa toksik dengan label piktogram tengkorak yang diberi tanda silang merah.
Kata racun sendiri bukan hal yang baru. Istilah racun pertama kali dikenal dalam kebudayaan bangsa Sumeria. Diketahui pada abad 2500 SM mereka menyembah dewi racun.
Dalam mitologi Yunani pun juga pernah disebutkan kisah Mahdea yang berencana membunuh Theseus menggunakan anggur beracun.
Saat ini penggunakan kata toxic mulai bergeser. Semenjak ilmu psikologi populer memperkenalkan istilah toxic untuk menyebut kebiasaan atau tindakan seseorang yang "meracuni" orang lain.
<aside> 💡
Setidaknya ada banyak istilah baru yang digunakan untuk mengenali "toxic people" antara lain, toxic masculinity, toxic friendship, toxic parents, toxic relationship, toxic leadership, dan masih banyak padanan "toxic" yang disematkan kepada tiap-tiap hubungan tidak sehat antara sesama manusia.
</aside>
Label toksik pun mulai dipakai dalam berbagai aspek menyangkut hubungan. Seorang anak yang punya orangtua ambisius dan pemarah akan menyebut orang tuanya "toxic parents". Pekerja kantor yang kerap mendapatkan keluh-kesah dan bertemu rekan yang menyebalkan akan melabeli dengan "toxic friendship".
Karyawan yang bertemu dengan atasan yang narsistik dan sering tak menghargai karyawan akan menjuluki "toxic leadership". Dan jika disadari setiap kasus hubungan antar manusia, dipastikan selalu ada "toxic people". Orang-orang saling melabeli sesama dengan toxic, tetapi adakah yang mau intropeksi diri kalau dirinya sendirilah mungkin juga toxic?
Toxic atau toksik bila diartikan secara sempit berarti sikap-sikap negatif dari seseorang yang menyebabkan individu tidak nyaman, merasa buruk, bahkan sampai kehilangan jati diri dan semangat akibat sering mendapatkan pengaruh negatif. Sesuatu akan jadi toxic apabila dilakukan secara berlebihan.
Paracelcus, seorang bapak Toksikologi pernah menyebut bahwa segala sesuatu adalah racun dan tak ada yang tanpa racun. Pahami kalimat ini, jika Paracelcus pun menganggap semua zat sebenarnya bisa menjadi racun, begitu pun dengan hubungan antar manusia, sesehat apapun hubungan masih akan jadi racun jua jikalau tidak ada batasan atau berlebih-lebihan.
Dosislah yang membuat sesuatu menjadi bukan racun, lanjut Paracelcus. Dosis di sini bermakna batasan, tanpa adanya batasan yang jelas, maka sesuatu yang dianggap baik dan sehat sekalipun, bisa menjadi racun pembunuh.
Sama halnya dengan hubungan, sebelum kita menyebut orang-orang lain toxic, bertanyalah pada diri sendiri, kenapa kita bisa di kelilingi atau berada dalam lingkaran orang-orang toxic? kenapa semua orang di mata kita jadi beracun? Apakah diri kita sudah bersih dari label toxic?